by Bimo Prasetio | Aug 8, 2024 | Artikel Lepas
Silent Agreement atau persetujuan diam-diam terjadi ketika pihak-pihak tidak menyatakan persetujuan secara eksplisit, tetapi tindakan atau perilaku mereka dianggap sebagai persetujuan sah berdasarkan konteks dan praktik tertentu.
Contoh Silent Agreement: Dalam kontrak sewa, jika pemilik properti menerima pembayaran sewa tanpa protes, ini bisa dianggap sebagai persetujuan diam-diam untuk perpanjangan kontrak tanpa perjanjian tertulis baru.
Persetujuan diam-diam seringkali menyulitkan dalam hal bukti dan penegakan dalam perselisihan, karena tidak ada catatan tertulis atau bukti konkret mengenai persetujuan tersebut.
Atau jika ada usulan klausul perpanjangan yang belum dicantumkan di kontrak sebelumnya dan hanya disetujui secara lisan, maka akan sulit pembuktiannya.
Oleh karena itu, selalu jaga transparansi dan komunikasi jelas dalam transaksi untuk menghindari kebingungan atau sengketa di masa depan.
Apakah Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut atau kasus spesifik yang ingin dibahas mengenai persetujuan diam-diam? Yuk, ngopi bareng saya.
Share tulisan ini agar yang lain juga #JadiNgerti, semoga bermanfaat.
by Bimo Prasetio | Aug 7, 2024 | Artikel Lepas
Tanpa legal due diligence, akuisisi dapat mengalami masalah serius, seperti:
- Pelanggaran Hukum yang Tidak Terdeteksi: Masalah peraturan yang dapat merusak reputasi dan menyebabkan sanksi atau kerugian finansial, seperti izin operasional yang belum lengkap atau aktivitas bisnis yang tidak sesuai anggaran dasar.
- Masalah Kepemilikan Saham dan Perjanjian yang Tidak Terkendali: Saham yang dialihkan tanpa pelaporan yang tepat di Kemenkumham, memicu potensi sengketa hukum.
- Sengketa Hukum yang Baru Diketahui: Risiko sengketa hukum yang tidak terdeteksi sebelumnya, menambah beban biaya pengadilan dan kerugian finansial.
- Kesulitan Lisensi dan Hak Kekayaan Intelektual: Ketidakjelasan kepemilikan lisensi atau hak kekayaan intelektual yang dapat merusak nilai aset dan potensi pertumbuhan bisnis.
Pentingnya melakukan legal due diligence yang cermat sebelum menjalani proses akuisisi untuk mengidentifikasi potensi risiko hukum yang dan untuk menghindari kerugian atau masalah hukum di kemudian hari.
Share tulisan ini agar yang lain juga #JadiNgerti
by Bimo Prasetio | Aug 5, 2024 | Artikel Lepas
Investor perlu melakukan legal due diligence sebelum akuisisi karena beberapa alasan penting:
- Mengidentifikasi Risiko Hukum: Mengungkap potensi masalah hukum yang dapat mempengaruhi keputusan dan strategi mitigasi.
- Mengukur Nilai Riil Perusahaan: Menilai apakah nilai dan kondisi hukum perusahaan mendukung pertumbuhan berkelanjutan.
- Mengamankan Investasi: Memastikan perlindungan hukum dan menghindari konsekuensi merugikan.
- Negosiasi yang Lebih Baik: Memperoleh wawasan untuk syarat akuisisi yang lebih menguntungkan dan struktur transaksi optimal.
Melakukan legal due diligence sebelum akuisisi membantu investor mengurangi ketidakpastian hukum, mengidentifikasi risiko potensial, dan memastikan transaksi yang aman dan sesuai tujuan investasi.
Share konten ini agar yang lain juga #JadiNgerti
by Bimo Prasetio | Aug 2, 2024 | Artikel Lepas
Membuat perjanjian antar pemegang saham di awal bisnis adalah langkah penting untuk memastikan hubungan yang jelas dan transparan antara para pemegang saham serta melindungi kepentingan semua pihak. Berikut beberapa poin yang harus diperhatikan:
- Pengaturan Hak dan Kewajiban: Menetapkan hak dan kewajiban masing-masing pemegang saham, termasuk hak suara, hak atas keuntungan, dan tanggung jawab, untuk menghindari konflik di masa depan.
- Pengaturan Pembagian Keuntungan: Mengatur cara pembagian keuntungan perusahaan secara jelas untuk mencegah konflik terkait pembagian laba.
- Pengaturan Pengalihan Saham: Menentukan mekanisme pengalihan saham, termasuk syarat-syarat pengalihan, harga jual, dan persetujuan mayoritas, untuk menghindari masalah jika ada pemegang saham yang ingin keluar dari perusahaan.
- Penyelesaian Sengketa: Menyertakan mekanisme penyelesaian sengketa yang jelas dan adil untuk mengatasi konflik secara efisien tanpa melibatkan pihak eksternal.
- Perlindungan Minat Bisnis: Melindungi bisnis dari risiko perubahan kepemilikan yang tidak diinginkan dan memastikan kelangsungan operasional perusahaan.
Silakan menghubungi saya jika ingin mendiskusikan soal perjanjian yang sesuai dengan kebutuhan dan tujuan bisnis Anda.
Share tulisan ini agar yang lain #JadiNgerti
by Bimo Prasetio | Aug 1, 2024 | Artikel Lepas
Sebelum memasuki proses arbitrase, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar jangan sampai gagal di persidangan.
- Klausula arbitrase: Tinjau kontrak atau perjanjian yang mengatur persyaratan arbitrase. Pahami klausul arbitrase, termasuk aturan, prosedur, dan proses yang harus diikuti sebelum mendaftarkan gugatan di arbitrase.
- Biaya: Pertimbangkan biaya arbiter, biaya administratif, jasa hukum, dan biaya lainnya. Fee arbiter dihitung berdasarkan persentase nilai tuntutan, jadi pastikan nilai gugatan rasional.
- Pemilihan Arbiter: Pilih arbiter yang memiliki keahlian dan pengalaman relevan dengan sengketa yang dihadapi.
- Persiapan Dokumen: Siapkan semua dokumen dan bukti yang relevan untuk mendukung gugatan atau pembelaan. Dokumen bukti harus diajukan saat pendaftaran permohonan arbitrase.
- Sifat Final & Mengikat: Pahami bahwa putusan arbitrase bersifat final dan mengikat, sehingga penting memahami konsekuensinya sebelum memulai proses arbitrase.
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas, Anda akan lebih siap menghadapi proses arbitrase. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, silakan hubungi saya untuk penyelesaian kasus Anda.
Share tulisan ini agar yang lain juga #JadiNgerti