Bersyukur

Bersyukur

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” Al-Baqarah 152.

Sedikit mensarikan pengajian bulanan di kantor. Dimulai dengan membaca Surat Ar-Rahman (#NgajiDiKantor).

Rasulullah SAW bersabda, “Bagi tiap sesuatu ada mempelainya. Mempelai Al-Qur’an, ialah surat Ar Rahman.” (HR. Baihaqi).

Fadilah surat Ar-Rahman itu antara lain: diberikan jodoh, diberikan anak, diberi klien, diberi rezeki terus deh, hehe.

Maka bersyukurlah.

Maka dari itu kajiannya tentang Bersyukur atas Nikmat Allah.

Apa Hakekat Syukur:

Syakara = Menyebarkan

Menyadari nikmat Allah itu berasal dari Allah, dgn menyatakan kegembiraan dan menunaikan segala sesuatu yang menjadi tujuan dari Dzat yang memberi kenikmatan itu.

Lalu untuk Apa Bersyukur?

Untuk mengingat nikmat Allah.

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” Al-Baqarah 152.

Ketika diminta memilih antara harta, jabatan atau ilmu, Nabi Sulaiman memilih ilmu. Karena dengan ilmu dia bisa mengetahui bagaimana cara mendapatkan harta.

Secara prinsip, antara ilmu dengan harta, jika kita belanjakan harta akan habis. Jika ilmu dibagikan, maka justru akan bertambah. Tapi kalau Sedekah berbeda.

Kalau sedekah, harta dibagikan secara materi berkurang, namun berkahnya akan bertambah, sehingga rezekinya bertambah.

Syukur itu hati menyadari nikmat Allah, kemudian mengucap syukur secara lisan dan mengamalkan degan perbuatan.

Apa manfaat bersyukur? Untuk mengingat nikmat dari-Nya, agar terhindar dari siksa dan agar selalu ditambah nikmat dari-Nya.

Lalu bagaimana caranya, beribadah. Berdoa itu ibadah, kerja juga ibadah. Malah kerja itu pahalanya lebih besar krn dilakukan lebih lama dalam 1 hari.

Ibadah harta pahalanya lebih besar lagi karena manfaatnya lebih kepada orang banyak.

Yang tidak bersyukur kenapa tetap diberikan kaya?

Allah Maha Pengasih, buat yg tdk bersyukur (kufur) tetap diberikan nikmat. Tapi ingat janji Allah di dalam surat Al-An’Am 44.

Allah akan tetap berikan rezeki kepada yang fasiq dan kufur, namun akan diberi siksa secara tiba-tiba, ketika itu mereka akan terdiam putus asa.

Silahkan simak Surat An-Nisa ayat 36 urutan berbuat baik, termasuk Sedekah (sila baca juga Surat Al-Baqarah ayat 215).

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan apapun juga. Dan berbaktilah kepada kedua orang ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim dan orang miskin, tetangga yang dekat dan yang jauh (1), teman sejawat (2), orang-orang yang dalam perjalanan, dan hamba sahaya yang berada di bawah kekuasaanmu. Sesungguhnya Allah tidak menyenangi orang yang sombong dalam gerak-geriknya lagi sombong ucapannya.” (Surat An-Nisa ayat 36)

Jadi ingat lagu:”Ucapkan Alhamdulillah, syukur kita kepada Allah. Shalawat kepada Nabi, Muhammad ya Rasulullah” (Senada).

Nah, siapa yang mau ikut #NgajiDiKantor bareng sama kami :)

Tawakal

Tawakal

“Tawakal adalah Wakala atau mewakilkan atau menguasakan urusan kepada Allah.”

Baca Surat At-Thalaaq ayat 2-3

“Dan (Allah) memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka…”

Menurut Imam Al-Ghazali ada 4 tingkatan Tawakal.

  1. Tawakal paling rendah :
    Mengukur kemampuan Allah dengan beberapa kriteria.
    Misalnya menguasakan seluruh urusan perkara kepada lawyer. Ada kriterianya, punya skil, reputasi dll.
    Mengukur keamanan dan kenyamanan hidup berdasarkan saldo di tabungan.
    Ini ujian, seberapa tingkat Tawakal kepada Allah.
    Seperti apa hidup yang zuhud itu? Meninggalkan dunia sama sekali? Bukan.
    Zuhud itu adalah ketika kita lebih tenang dengan apa yang ada di tangan Allah ketimbang yang ada di tangan kita.
    Allah Maha Penolong, Allah tidak akan dzalim kepada hamba-Nya.
    Ketika kita sudah berikhtiar maka kita serahkan kepada Allah.
    Kenapa kita bisa kurang bertawakal kepada Allah? Karena kita belum mengenal Allah, belum dekat dengan Allah.
    Misalnya, anak masuk Rumah Sakit, butuh biaya.
    Lebih tenang mana kalau mau pinjem ke temen dekat yg kaya atau ke teman jauh yang belum ketahuan hartanya, kepercayaannya dll.
    Bagaimana kita mempercayakan kemampuan Allah untuk membantu urusan kita? Silahkan ukur pada diri masing-masing.
  2. Tingkat Tawakal Kedua :
    Bagaimana tingkat tawakal kita kepada ibu.
    Mis, anak kecil, kalau ada masalah langsung teriak “Ibu”, tanpa mengetahui ibu nya bisa atau tidak.
    Bisakah kita meyakini pertolongan Allah seperti itu. Yakin Allah pasti akan bisa menolong kita.
    Tanpa melupakan ikhtiar, seperti anak kecil tadi, masih ada upaya untuk menghadapi masalah dan berteriak.
  3. Tingkat Tawakal Ketiga:
    Kita laksana mayat. Tak berdaya sama sekali. Men-nol-kan diri.
    Ketika berusaha atau ikhtiar menyerahkan hasilnya apapun dari Allah. Menerima kondisi apapun dari Allah.
    Sukses = I (ikhtiar) = 100 = 0,5. T (Tawakal) 200
    Coba kalau tawakalnya 0. Sukses = 100 = tak terhingga. 0 Ikhtiar tetap, tapi kesuksesan Allah yang tentukan.
    La haula walakuwata illabilah.

 
Tanya:
Kita kalau mau curhat sama Allah, terus shalat, ngaji, tapi saat mengerjakannya kepikiran terus soal masalah itu, jadi tidak khusyuk mengerjakannya. Bagaimana?

Jawab:

Manusiawi kalau kita ingat dengan masalah. Yang penting tetap fokus berkomunikasi dengan Allah. Meminta penyelesaian masalahnya. Khusyuk meminta kepada Allah mendapatkan solusinya.

Fokus kita adalah bagaimana mengadu kepada Allah. Seperti kalau kita tawaf, bahkan lebih baik kita berdialog dengan bahasa Indonesia daripada sibuk membaca bahasa Arab tapi tidak tahu artinya. Sehingga makna komunikasinya jadi kurang.

Kompetensi Diri Sebagai Bekal Ke Akhirat

Kompetensi Diri Sebagai Bekal Ke Akhirat

“Diciptakan manusia semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT.”

Dalam bab beribadah kadang ditafsirkan secara sempit bahwa ibadah itu soal shalat, puasa, haji dan mengaji. Padahal kerja dan belajar juga bisa menjadi ibadah, jika dilakukan dengan berorientasi pada akhirat.

Orang yang berorientasi pada akhirat bukan berarti mengisolasi diri dari dunia. Misalnya tidak bermuamalah dan hanya berdiam diri di dalam mesjid.

Justru seharusnya menggunakan dunia untuk bekal ke akhirat nanti.

Apakah kalau hanya mengaji saja dijamin masuk surga? Apakah yang hanya berbisnis saja akan mendapatkan kekayaan?

Jawabnya BELUM TENTU. Karena semuanya atas kehendak Allah.

Coba lihat Surat Al-Isra 18 – 20.

18. Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.

19. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu’min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.

20. Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu [849] Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.

Ingat, perjuangan Khalid Bin Walid dalam berbagai penaklukan semata-mata untuk menegakkan agama Allah di muka bumi. Oleh karena itu, gunakan kemampuan kita sesuai kapasitas dan kompetensi kita. Misalnya yang guru ya melalui pengajaran kepada muridnya. Betapa sayang kalau sarana mengajar tidak dijadikan ladang dakwah kepada murid-muridnya.

Biasanya ada yang meninggalkan dunia karena merasa gagal mendapatkan dunia.

Ada yang merasa sudah cukup utk hidup dgn gaji 5juta. Sehingga tdk perlu mengembangkan potensi diri.

Tanamkan dalam diri kita, orientasi hidup kita bukan hanya untuk diri kita pribadi. Tapi juga untuk orang lain.

Kalau bisa bersyukur dengan gaji 5juta, Alhamdulillah, kenapa tidak berpikir untuk mendapatkan 100juta sehingga 95juta digunakan untuk membantu yang lain.

Asal jangan ketika bisa mendapatkan 100juta kebutuhannya berubah menjadi 95juta ya, hehe.

Di samping itu, jika kita melihat Surat Al-Ashr, semua orang itu rugi, kecuali yang beriman dan beramal soleh.

Artinya, tidak hanya berorientasi soleh secara pribadi, tapi secara berjamaah.

Sebagai refleksi pada diri dan profesi saya sebagai lawyer, saya sempat berpikir untuk mundur karena frustasi dengan praktik mafia peradilan.

Saya sempat berpikir untuk mundur dan menjalankan bisnis yang lain. Namun, seorang guru mengingatkan saya akan hal di atas tadi, khususnya tentang kompetensi.

Kenapa tidak menggunakan kompetensi yang ada sebagai media dakwah dan menjadikan alat sebagai bekal ke akhirat?

Masya Allah, itu seperti cambuk keras bagi saya. Saya sudah menyerah dan mundur sebelum berjuang menegakkan agama Allah dalam profesi saya.

Kini sudah saya tekadkan diri untuk menggunakan keahlian sebagai lawyer guna menjadi bermanfaat bagi orang lain. Mohon doanya agar saya beristiqomah dalam menjauhkan diri dari hal-hal yang dzalim dalam dunia hukum.

Serta gerakan @Legal4UKM dapat menjadi wasilah dan jalan menuju surganya Allah SWT. Dapat mengajak banyak lawyer lainnya untuk berbagi ilmu dan menebar manfaat bagi umat.

Wasalam,
Bimo Prasetio

@Bprasetio
www.bimoprasetio.com
www.legal4ukm.com

Tawakal

Renungi Doa Duduk Diantara Dua Sujud

Saya mendapati artikel di bawah ini. Menarik sekali, saat mencobanya hati saya tergetar dan merinding.

Kalau kita renungi lebih khusyuk, doa dalam duduk diantara dua sujud itu adalah sudah mencakup semua keinginan kita di dunia ini, sebagai bekal kita berpulang nanti.

Selamat menyimak.
Salam,

Ketika dalam “duduk di antara dua sujud.” Dalam tidak sadar, setiap hari kita memohon di dalam shalat kita.
Sayangnya, kita hanya memohon tanpa memahami, sekadar tersebut di bibir, tetapi tidak tersentuh dari hati.
Marilah kita mula menghayati ketika kita duduk di antara dua sujud semasa shalat. Dengan rendah hati nyatakanlah permohonan ampun kepada Allah.

Rabbighfirli.. (Tuhanku, ampuni aku..)

Diamlah sejenak, buka dada dan diri kita untuk menerima ampunan dari Allah.
Seperti membuka diri ketika merasakan hembusan angin sepoi-sepoi atau menerima curahan air hujan ketika kita masih kecil.

Tetaplah membuka diri kita untuk menerima ampunan Allah. Ulangi permintaan itu beberapa kali hingga kita merasakan ketenangan.

Kemudian sampaikanlah permintaan kedua, Warhamni. (Sayangi aku).

Diam dan tundukkanlah diri kita untuk menerima kasih-sayang Allah yang tak terhitung besarnya.
Bukalah dada kita seluas-luasnya agar semakin banyak kasih-sayang Allah yang kita terima.

Berturut-turut sampaikanlah permintaan2 berikut dengan cara sebagaimana tersebut di atas, satu persatu.

Wajburnii..(Tutuplah aib-aibku..)
Warfa’nii..(Angkatlah derajatku..)
Warzuqnii..(Berilah aku rezeki..)
Wahdinii..(Berilah aku petunjuk..)
Wa’Aafinii..(Sehatkan aku..)
Wa’fuannii..(Maafkan aku..)

Setelah selesai, diamlah sejenak lalu sampaikan rasa syukur kita.

Betapa besarnya nilai sebuah doa ini..sebuah doa yang kita hanya lewatkan begitu sahaja..
Dalam tidak kita sedar selama ini kita seperti sedang berpura-pura memohon sesuatu.

(Sumber dari internet)

Salam,
Tweet me @Bprasetio

Buku Ustadz Yusuf Mansur: Kaya Lewat Jalan Tol

Buku Ustadz Yusuf Mansur: Kaya Lewat Jalan Tol

Saya akan share buku Ustadz Yusuf Mansur, Kaya Lewat Jalan Tol (Kaya Hati, Kaya Rasa, Kaya Raya) yang pernah saya sampaikan melalui twitter dengan #ShareABook.

“Seberapa indah kehidupan masa depan yang akan anda bangun?”

Dalam Pengantar Buku ini disampaikan, Ustadz Yusuf Mansur mengajak kita lebih baik, sukses, bahagia, tenang, nyaman, aman dan memiliki kekayaan sesungguhnya. Memang sudah kodratnya bahwa manusia cenderung suka harta, sangat manusiawi. Kenapa? Karena hal itu sudah ditanamkan dalam hati manusia, lihat surat Ali-Imran ayat 14.

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan. Berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpul dalam bentuk emas dan perak, Kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (Ali-Imran 14)

Kita semua ingin harta berlimpah dengan harapan bisa melakukan banyak hal baik, memenuhi kebutuhan kita dan juga orang lain. Harta juga bisa menjadi sarana kita mendekatkan diri kepada Allah. Bersedekah, bangun mesjid dll.
Yang jadi soal ketika Kekayaan ini dijadikan sebagai tujuan utama. Dicari dan digunakan tidak lagi di jalan Allah.
Buku ini mengajak kita kembali pada paradigma dan cara pandang terhadap makna “Kaya”. Bagaimana mencapainya hingga berkah dunia akhirat.

Membangun Kerajaan Hati Sebelum Membangun Kemewahan. “Sesungguhnya mereka yang merasa selalu kuranglah yang miskin”

Alkisah Boby, pengusaha resto yg sering mengundur bayar gaji dan menunda pembayaran ke suplier ditegur ayahnya.
Boby: “Jika ditunda, uang bisa diendapkan di bank dan lain-lain. | Ayah: “Itu tandanya masih miskin, miskin hati.”
Banyak orang ingin jadi lebih kaya karena selalu merasa kurang. Akhirnya menempuh jalan yg salah.

Bangun dulu kerajaan hati sebelum kemewahan. Hilangkan keserakahan dan bersyukurlah atas apa yg ada pada kita.
Kita bisa berbuat banyak dengan apa yang kita miliki, jangan fokus pada yang tidak kita miliki. Hidup lebih nikmat.
Kunci sukses: “Peduli dan Berbagi”, tak lupa tingkat kepatuhan terhadap perintah dan larangan-Nya. Kekayaan sebenarnya adalah kedekatan dan kecintaan kita kepada-Nya, harga dunia jadi sangat kecil.

Dikisahkan, Umar Bin Khathab pernah menginfakkan kebun kurma miliknya karena ketinggalan shalat Ashar berjamaah.
Ia terlambat karena terbuai keindahan dan kicauan burung di kebun kurma tersebut, hingga tersita waktunya.
Khalifah Umar menilai menghargai Allah lebih besar daripada dunia. | Bgmn dgn kita? #Jleb


“Kehidupan dianggap indah oleh orang-orang Kufur dan mereka merendahkan orang-orang yang beriman. Padahal orang yg memelihara diri itu lebih tinggi derajatnya di hari kiamat…” (Al-Baqarah 212)

Dunia itu ibarat gula: manis. Ia akan mengundang siapa saja yang ingin merenguknya. Ada hikmah dibalik secangkir teh manis yang dikerubungi semut. Perhatikan, banyak semut yang mati kekenyangan.

Itulah dunia, jika kita mengejar gula tanpa “undangan” bukan nikmat yg diraih, ajal menjemput.
Dan itulah suatu kesia-siaan. Mengejar dunia tanpa akal sehat dan menafikkan Allah. Inginnya yang instan, potong kompas sehingga tidak menghargai proses.

Keindahan dibuat mulai dari kekuasaan, popularitas, uang dsb, yg siap “menenggelamkan” semut (baca: kita) jika lupa pada pemilik dunia. Ikhtiar dengan cara yang sabar. Berproses dengan memperhatikan rambu-rambu. Jadikan keinginan untuk #berbagi sebagai motivasi untuk kaya. Kaya ketika banyak berbagi, bukan banyak menyimpan.

Tidak sedikit cerita soal pengusaha kaya raya tiba-tiba jatuh hingga habis. Pejabat yg terlempar akibat korupsi, zina dan lainnya. Sekaya-kaya kita, nantinya akan kita tinggalkan. Ingin dunia, kejar yang benar. Jika tidak, kepahitan didapat.

Saya teringat artikel tentang kedermawanan Warren Buffet. Salah satu orang terkaya di dunia.
Warren Buffet bergantian dgn Bill Gates sebagai orang terkaya di dunia. Dia pemilik Coca Cola, IBM, Bank of America dll. Kekayaannya ditaksir USD 50milyar.

Dari 80% penghasilannya dibagikan ke yayasan milik Bill Gates. Anaknya tidak ditinggali banyak kekayaan agar kreatif, inovatif, termotivasi dan membangun mental suka berbagi. Baginya, hidup ini lebih bermakna jika kita berbagi. Karena berbagi itu mulia.

Alkisah Nabi Isa AS berjalan menyusuri sungai dengan seorang yang baru dikenalnya. Nabi Isa meletakkan 3 potong roti. 1 potong dimakannya, 1 potong lagi dimakan orang itu. 1 potong tersisa. Kemudian Nabi Isa pergi mengambil air untuk minum. Sekembalinya, roti itu sudah tidak ada. Ia bertanya, “Siapa yang mengambil?” | “Aku tidak tahu” sahut sang kawan. Keduanya lalu kembali berjalan. Di tengah jalan, dipanggil seekor Rusa, kemudian dibakar dan mereka makan. Setelah itu, Rusa yg sudah dimakan dihidupkan kembali atas izin Allah. Nabi Isa kembali bertanya pada temannya: “Demi Allah, yang memperlihatkan kepadamu bukti kekuasan-Nya, siapa yang mengambil roti itu?”

Teman itu menjawab: “Aku tidak tahu”. Lalu mereka kembali berjalan.

Ketika di hutan, Nabi Isa mengambil tanah dan kerikil lalu diperintahkan jadi emas dengan izin Allah, lalu dibagi 3 bagian. Untukku 1/3, untukmu 1/3 dan untuk yang mengambil sepotong roti itu 1/3. Serentak teman itu berkata,
“Akulah yang mengambil roti itu.”

Nabi Isa berkata, “Ambillah semua emas itu. Kemudian mereka berpisah di jalan.

Setelah itu, teman ini didatangi 2 orang perampok yang akan membunuhnya. Lalu teman ini berkata, “Kita bagi tiga saja”. Semua setuju.

Ketika salah satu perampok pergi membeli makan, timbul rasa rakus dalam dirinya.

“Untuk apa dibagi 3, lebih baik makanan ini diberi racun saja agar keduanya mati dan emas itu selamat”.
Sementara perampok yg tinggal berkata, “Untuk apa dibagi 3, jika dia datang kita bunuh saja dan bagi 2.”
Ketika datang, kemudian dibunuhlah perampok yang membeli makan tadi. Lalu mereka berdua memakan makanan yg telah diberi racun.

Tak lama matilah mereka seketika di hutan itu di sekitar harta mereka akibat keserakahan duniawi.
Ketika Nabi Isa berjalan di hutan dan menemukan emas itu, ia berkata pada sahabatnya, “Inilah wajah dunia. Berhati-hatilah kamu kepadanya.”

Sesungguhnya setiap laki-laki itu memiliki 4 istri. | Oh ya, bagaimana bisa?

“Anak-anak adalah perhiasan dunia dan amal saleh yang kekal adalah sebaik-baik pahala di sisi Tuhanmu dan sebaik cita-cita” Al-Kahfi ’46

Istri 4: harta atau dunia
Istri 3: Keluarga
Istri 2: Badan kita
Istri 1: Amal kita
Itulah 4 istri dalam kehidupan dunia.

Diibaratkan, Istri ke-4 itu yg paling muda dan cantik, menggoda. Sebagian besar waktu dihabiskan bersamanya.
Ketika akan mati, apakah istri ke-4 ini diajak bersama. Tentu Harta jelas menolak utk dikuburkan bersama jasad kita.

Istri ke-3 hanya akan menghibur suami hingga tempat pemakaman saja. Sesayang apapun keluarga, mereka tidak akan ikut dikubur bersama kita.

Istri ke-2 lebih baik, ia mau diajak ke alam kubur, tp tidak lebih jauh. Badan kita hanya akan ikut dikubur, tapi tidak ikut dibangkitkan di akhirat nanti.

Bagaimana istri 1. Inilah amalan kita, yang akan ikut setia dengan kita ke perkuburan hingga kita dibangkitkan.
Itulah ke-4 istri dalam hidup ini. Masihkah kita tidak memperhatikan pasangan kita yang paling setia ini?

“Dan tunjukkanlah perumpamaan kehidupan dunia. Ia seperti air yang Kami turunkan dari langit, lalu ia bercampur dengan tumbuh-tumbuhan yang ada di bumi, lalu tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering ditiup angin. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” Al-Kahfi 45

Untuk Kaya Mudah, untuk sukses mudah. | Sesuatu sulit kalau kita anggap sulit dan menjadi mudah kalau kita percaya itu mudah :)

Demikian beberapa cuplikan bagian dari buku Ustadz Yusuf Mansur “Kaya Lewat Jalan Tol”. Beli bukunya dan baca lebih lengkap, dijamin banyak ilmu yang akan mengalir.

Kalau sudah dapat ilmunya, jangan lupa, disebarkan juga. Insya Allah akan bertambah ilmu kita itu.

Salam,
Twit me @Bprasetio

Bimo Prasetio