Saya mendapat pelajaran berharga tahun 2011 dari akun twitter Mas Jaya Setiabudi | Katanya setiap hari orang itu harus tumbuh dan berbagi. Itulah mengapa perlu terus belajar untuk tumbuh. Dan ketika hari ini kita tidak merasa tumbuh maka berbagilah agar kita bisa tumbuh.
Begitu juga ketika saya belajar dari guru-guru saya almarhum Ustadz Hilman Rosyad dan Robbyantono E. Jurist | pentingnya kita berkontribusi dalam perjuangan ummat dan menjadi orang yang bermanfaat. Jadilah saat itu saya kerap menyanggupi jika diberi amanah di organisasi, komunitas dan sebagainya.
Lalu di komunitas TDA saya juga belajar nilai-nilai tentang berbagi dan bertumbuh bersama. Alhasil saya berkomunitas hingga mengemban amanah sebagai presiden TDA 5.1. Seperti yang disampaikan Pak Badroni Yuzirman TDA itu membuat kita “kecanduan” hormon endorfin. Karena semakin kita berbagi, perasaan bahagia terus datang.
Benang merah dari semuanya adalah, kita harus bisa memaknai hidup ini bukan sekedar menjalani aktifitas keseharian, namun ada nilai kebaikan yang harus diperjuangkan.
Caranya dengan mencari lingkungan yang baik, berkumpul dengan orang-orang baik secara rutin untuk saling menguatkan. Iya, ukhuwah ini yang akan terus membuat kita bisa bertumbuh dan berbagi.
Dengan bersama-sama, kita lebih yakin dan percaya diri untuk bergerak. Sendirian akan membuat kita cepat lelah. Kini saya memfokuskan energi saya untuk tumbuh dengan cara berbagi kemampuan, keahlian dan pemikiran saya.
Menjadi penting untuk berbagi, karena akan memacu kita untuk tumbuh, setelah itu dibagikan lagi ilmunya. Sehingga kita akan terus relevan dan berkontribusi maksimal.
Amal kebaikan terus dipupuk agar kelak kita nikmati hasilnya. Bukan soal berapa besar kontribusi kita, namun seberapa besar kita curahkan kontribusi kita untuk kebaikan. Insya Allah kebaikan itu akan kembali pada kita tanpa perlu kita minta.
Maaf, udara sejuk di Malang pagi ini membawa pada kewarasan dan kebahagiaan tersendiri kala melihat banyak teman-teman yang sedang berlomba-lomba dalam kebaikan.
Salam hormat,
Bimo Prasetio Founder & Lawyer Smartlegal.id BP Lawyers Counselors at Law
Belum merdeka ketika opini, sikap dan postingan masih bergelut dengan berapa banyak like, comment and shares. Takut mengambil keputusan hanya khawatir akan cibiran dan sindiran. Sehingga apa yang hendak diposting “didikte” oleh followers. Lalu apa arti merdeka?
Merdeka dapat dimaknai dengan bebas dari belenggu penjajahan. Dalam konteks saat ini, penjajahan tidak hanya soal perang untuk mempertahankan kedaulatan. Namun juga jiwa yang merdeka dalam bersikap dan bertanggung jawab menghadapi tantangan
Saat ini sedang berkecamuk perang pemikiran, perang melawan hawa nafsu, perang ekonomi, bahkan perang harga untuk memuaskan syahwat belanja konsumen di marketplace (diskon mana diskon ????).
Semua sedang berperang, berjuang untuk mencapai kebebasannya agar dapat menentukan ide, sikap, kebijakan, tarif, harga, tanpa harus khawatir akan “dikudeta” oleh yang lainnya.
Alhasil, ternyata kita semua masih berperang, kita belum merdeka. Akan selalu ada peperangan yang perlu kita lalui untuk mencapai tujuan akhir kita. Apa yang menjadi destinasi akhir dan WHY menentukannya sebagai destinasi akhir juga menjadi satu pertimbangan sendiri.
Yes my friend, we are in a war. Terus berjuang untuk menggapai tujuan akhir hingga titik darah penghabisan. Bukan soal merdeka nya, namun bagaimana perjuangannya.
Bukan soal belenggu penjajahnya, tapi bagaimana sikap kita. Hilangkan blamming, excuse dan denial ketika berbagai rintangan menghadang. Penyikapan kita terhadap setiap tantangan yang akan menentukan, atitude positif jelas diperlukan. Jangan jadikan orang lain atau keadaan diluar sana sebagai alasan bagi kita untuk berhenti berjuang.
Terus pekikkan gema perjuangan, semangat perubahan untuk mencapai perbaikan. Fokus berubah untuk jadi baik, tanpa khawatir apa kata orang lain.
Mereka yang masih terkena masalah hukum bisa jadi masih dijajah oleh buta hukum. Perlu ada solusi untuk memberantas buta hukum, alergi dan takut dengan hukum. Jadilah solusinya.
Salam hormat dari kami, yang selalu menemani perjuangan ini.
Memang tidak ada ketentuan soal gaji direksi atau komisaris, apalagi kalau yang menjabat adalah owner bisnis itu sendiri.
Namun saat Founder dan Co Founder berbagi amanah di dalam organ PT, jangan sampai salah bertindak juga dalam menjalankan PT nya. Kenapa?
Karena jika komisaris melakukan transaksi atas nama PT, maka tanggung jawabnya akan beralih ke pribadi dan tidak mengikat PT. Kecuali ada RUPS yang merarifikasi atau menyetujui tindakan tersebut.
Silakan disimak infografis dan artikel berikut ????????
Siapa bilang jadi direktur banyak perusahaan itu enak, tumpukan tandatangan keperluan pajaknya juga lumayan.
Prinsipnya, jadi owner bisnis gak harus jadi CEO atau Dirutnya, yang penting punya kendali kan, hehe.
Tapi semua adalah pilihan. Yang penting tugas utama pengusaha dan juga leader adalah memikirkan hal konteks bukan fokus pada konten, agar lebih strategis memikirkan pengembangan bisnisnya. Selain itu, mengkader calon pemimpin tak kalah pentingnya. Bisnis harus jadi legacy, tongkat estafet kepemimpinan juga harus siap dialirkan.
Yo wis, beresin dulu tandatangan SPT nya dulu sana. Setelah itu lanjut berkarya lagi.
Mau dapat update terkini tentang aspek legal dalam bisnis anda, follow aja Smart Legal ID dan subscribe youtube channelnya
Bicara soal ikhlas, adalah bab yang ringan diucap, berat dilakukan. Karenanya bab ikhlas dan memaafkan menjadi suatu amalan yang diganjar dengan pahala tinggi. Simak kisah berikut.
Anas Ibn Malik menceritakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Al-Nasa’i, tentang orang yang disebut sebagai penghuni surga. Diceritakan, “Suatu hari kami bersama para sahabat yg lain duduk dalam satu majlis bersama Rasulullah. Di tengah majelis beliau berkata, “Sebentar lagi akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni surga”. Tak lama berselang, tiba-tiba muncul seorang lelaki anshar dengan janggut masih basah oleh air wudlu. Ia berjalan dengan tangan kiri menjinjing sandal.
Keesokan harinya dalam kesempatan yg sama, Rasulullah kembali berkata begitu, hingga ketiga kalinya Rasulullah mengatakan hal yang sama.
Demi menghapus rasa penasaran, sahabat Abdullah Ibn Amr mencoba membuntuti lelaki tersebut, lalu mencegatnya dan berkata. “Wahai kawan, dapatkah kamu memberi pertolongan? aku bertengkar dengan ayahku dan berjanji tidak menemuinya selama 3 hari. Maukah kau mengizinkanku menginap selama 3 hari itu?” Setelah diperbolehkan, Abdullah Ibn Amr mengikuti lelaki itu menuju rumahnya.
Selama 3 hari itu Abdullah Bin Amr selalu memperhatikan setiap perbuatan si Fulan. Dan Beliaupun tidak menemukan suatu ibadah istimewa yang dilakukannya, sholat tahajud pun jarang Fulan lakukan, kecuali ia selalu berdzikir ketika tidurnya terganggu di tengah malam dan kemudian mengubah posisi tidurnya.
“Aku memang tidak punya amalan atau ibadah yang istimewa, aku hanya tidak mempunyai rasa benci, iri, dengki kepada semua orang.” Ternyata amalan inilah yang membawa si Fulan ke surga.
Dalam hadis lain dikatakan: “Orang yang kuat bukan yang banyak mengalahkan orang dengan kekuatannya. Orang yang kuat hanyalah yang mampu menahan dirinya di saat marah.” (HR. Al-Bukhari no. 6114).
Belajar ikhlas, memaafkan orang, menghilangkan rasa iri dan dengki adalah pelajaran sepanjang hidup. Semoga kita bisa mengambil hikmah dan pelajarannya.