Energi itu bernama Komunitas

Energi itu bernama Komunitas

Sabtu dan Minggu kemarin bersama teman-teman TDA Batam di acara Pesta Wirausaha Batam 2018.

Banyak yang tanya, weekend sebelumnya di Lampung, lalu ke Kendari, berlanjut ke Batam. Lalu kapan ngurus bisnis? Kapan waktu untuk keluarga? Badan gak capek? Sampai ada klien lama bertanya, “Pak Bimo sudah gak jadi lawyer?” ????

Kalau capek ya tentu badan perlu istirahat. Begitu juga bisnis perlu dimonitor bahkan saya juga masih handle klien atau kerjaan lainnya secara langsung. Berbagai acarapun mengajak istri dalam perjalanan. Telpon atau WA orang tua untuk mengetahui update.

photo_2018-12-04_07-51-10

Ada 3 hal yang saya lakukan agar semua dapat berjalan baik.
1. Manajemen Waktu
2. Tim yang support
3. WHY yang kuat dalam menjalani semua aktivitas.

Tanpa adanya tim, saya tidak akan bisa menjalani semuanya. Tanpa adanya manajemen waktu yang baik untuk bekerja dan istirahat, tentu saya akan tumbang. Apalagi di era digital, saya terbantu untuk komunikasi dan monitoring pekerjaan. Kordinasi tetap berjalan, review tetap dilakukan, organisasi tetap berjalan.

Namun tanpa keyakinan dan WHY yang kuat bahwa semua aktivitas kita adalah sesuatu yang bermanfaat, meaningfull, mulia, maka kerja kerja ini hanya akan jadi pengisi waktu saja. Tanpa WHY yang kuat dan jelas, di akhir waktu hanya akan ada penyesalan. Tapi ini tidak ada kata menyesal. Semua ini belum sempurna, masih terus belajar dan berproses.

Saya berterima kasih kepada para guru, senior, mentor dan sahabat yang terus menjadi penguat dalam setiap gerak.

Terus tersenyum, berjuang, belajar ikhlas dan jangan lupa bahagia.

Salam Scale Up Spirit
Tangan Di Atas (TDA)

Bimo Prasetio

Memaksimalkan Peran, Menebar Manfaat

Memaksimalkan Peran, Menebar Manfaat

Sudah jamak diceritakan ada teman yang bekerja di perusahaan Multi National Company dengan big salary. Namun ternyata, dia tidak happy dengan pekerjaannya.

Alasannya klise, mulai dari pekerjaan tidak sesuai passion, value di perusahaan tidak sesuai dengan prinsip nya, pekerjaan yang membosankan, bos yang menyebalkan dll.

Lalu kenapa tetap bertahan?
Ternyata mereka tidak berani resign dan kehilangan salary yg sudah diterima. Malas keluar dari zona nyaman?

Tidak juga, ada yang memutuskan berpindah-pindah perusahaan kalau sudah bosan.

photo_2017-10-22_18-40-58

Saya tidak mengatakan, “you have to do what you want to do” atau “do what you like to do”. Karena tidak semua yang kita inginkan itu baik untuk kita. Beberapa orang harus realistis, kalau memaksakan diri keluar dan melakukan hal yang menurutnya sukses dilakukan orang lain, seperti resign dan menjadi entrepreneur, kemudian akan berhasil juga dengan dirinya.

Menurut saya ini soal mindset. Bagaimana memaknai peran dan tujuan hidup. Ingin berkarya seperti apa dan memberi manfaat dengan cara apa.

Menjadi entrepreneur tidak selalu lebih baik dari karyawan. Lagipula kalau semua jadi pengusaha, lalu siapa yang jadi karyawannya? ????

Menjadi diplomat dan berperan memperjuangkan Indonesia di kancah internasional itu awesome, menjadi karyawan yang gaji nya ratusan juta lalu bisa berinfak sampai setengahnya bahkan membantu program ukm itu keren banget lho.

Jadi menurut saya, ini adalah cara pandang. Bagaimana kita memaksimalkan peran dan posisi kita saat ini agar menjadi bermanfaat dan membahagiakan. Tidak perlu menjadi seperti orang lain. Jadilah diri sendiri dengan segala keunikan kepribadian kita yang bermanfaat untuk orang banyak.

Salam,

Bimo Prasetio
Smartlegalnetwork.com

Bimo Prasetio