WARTAWAN ITU AKHIRNYA MENJADI ADVOKAT

WARTAWAN ITU AKHIRNYA MENJADI ADVOKAT

Ketika di akhir masa kuliah, saya sudah menetapkan pilihan ingin menjadi corporate lawyer. Namun sebagian hati ingin menjadi jurnalis. Kenapa jurnalis? Karena menjadi jurnalis adalah suatu privilege atau keistimewaan mendapatkan informasi lebih dulu, menyebarkan tulisan yang menjadi informasi dan referensi bagi banyak orang dalam mengambil keputusan.

Awalnya, saya cerita ke Dekan FH Unair saat itu, Prof Zaidun, bahwa saya ingin bekerja sebagai corporate lawyer di Surabaya. Karena saya sudah cinta sekali dengan kota pahlawan. Namun beliau malah mendorong saya untuk ke Jakarta, bahkan menyelipkan surat rekomendasi untuk bekerja di kantor Abdul Hakim Garuda Nusantara, seorang advokat, aktivis, mantan Ketua Komnas HAM juga.

Akan tetapi, saat di Jakarta saya sempat magang di salah satu kantor hukum dan memutuskan resign untuk bekerja menjadi jurnalis hukum. Ketika itu saya masih punya hasrat untuk bisa membuat perubahan lewat tulisan. Berperan dalam penegakkan hukum lewat tulisan. Menyuarakan keadilan dan pembaharuan hukum lewat tulisan.

Barulah setelah menjalani ratusan liputan, menelusuri ruang pengadilan, instansi pemerintah, audiensi dan wawancara one on one dengan berbagai advokat ternama, akhirnya hati saya luluh juga untuk mencari jalan menjadi advokat.

Akhirnya tawaran itu datang, saya mendapatkan kesempatan menjadi paralegal di kantor Pak Arsul Sani (Sani Aminoeddin & partners) kemudian melanjutkan trainee program di kantor hukum Makarim & Taira. Barulah kemudian masuk ke kantor hukum Adnan Buyung Nasution & Partners, dimana pada masa itu saya mendapatkan kartu advokat sebagai syarat beracara di pengadilan.

Namun pengalaman sebagai wartawan sangat membekas dan membantu karir saya sebagai seorang lawyer atau advokat. Saat menjadi wartawan saya terbiasa untuk menganalisis, mencari narasumber, manajemen waktu liputan dan menulis berita, hingga bagaimana etika berbicara dan menggali informasi dari narasumber. Semua itu menjadi modal penting bagi saya dalam memulai karir sebagai lawyer. Dan ternyata menjadi lawyer itu memang pekerjaannya kurang lebih sama, hanya berbeda output dan kepentingannya, hehe.

Saya mengikuti kisah Pak Abdul Rahman Saleh yang pernah menjabat sebagai Jaksa agung, Hakim Agung, notaris, advokat dan sebelumnya beliau adalah jurnalis juga. Begitu juga Bang Harry Ponto, seorang lawyer yang juga aktif dalam berbagai organisasi advokat, beliau juga pernah menjadi jurnalis. Tak jarang saya mendorong teman-teman dan adik kelas saya untuk ke Jakarta dan menajdi jurnalis hukum dulu untuk menimba ilmu dan mencari pengalaman. Dan hasilnya ada yang menjadi Kepala kantor KPPU, Legal Manager dan juga menjadi corporate lawyer di top tier law firm di Jakarta.

Seorang ulama besar Imam Al- Ghazali juga mengatakan “Kalau kau bukan anak raja, dan kau bukan anak seorang ulama besar, maka jadilah penulis”. Dan hingga saat ini saya masih antusias bergelut di dunia menulis. Karena saya yakin, kita tetap bisa membuat perubahan dan meninggalkan legacy melalui tulisan kita.

#BPLawyers #SmartLegal #Lawyers #Jurnalis #Pengacara #Advokat #Menulis #Jurnal #Media #Change #Legacy #Hukum

GAGAL JADI PEBASKET BANTING SETIR JADI LAWYER

GAGAL JADI PEBASKET BANTING SETIR JADI LAWYER

Dulu saat SMA saya sangat ingin menjadi pemain basket professional. Setidaknya bisa mencicipi aroma persaingan di Kobatama (Kompetisi Bola Basket Utama). Namun postur tubuh tidak mendukung, saya tidak terlalu tinggi dan badan sangat kurus. Skill pun pas-pasan, haha.

Lalu setelah gagal lulus UMPTN (Ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri), saya kuliah 2 semester di Universitas Pancasila. Lagi-lagi ya hanya main basket saja kerjaannya, kuliah berantakan. Kemudian lanjut ikut UMPTN tahun kedua dan masuk di FH Unair. Tapi apa lacur, jiwa basket meronta-ronta jika tidak tersalurkan. Jadilah kuliah pun tetap sibuk main basket sekalipun menjalankan amanah sebagai Chairman Asian Law Students’ Association, Pimred pers kampus dan mahasiswa Nasakom (Nasib Satu Koma) selama 3 semester berturut-turut, hehe.

Namun Alhamdulillah dulu bersama Unair pernah menjadi juara Libama Jawa Timur mengalahkan UBAYA dengan skor tipis, kemudian bermain di Libama Nasional. Tim FH Unair pun pernah meraih peringkat 3 dalam turnamen basket antar FH se Indonesia. Basket ini memang sudah lekat sekali dengan aktifitas. Berkompetisi kadang menjadi candu untuk tetap berpacu dengan adrenalin serta suasana pertandingan yang begitu khas.

Yang menarik, melalui basketlah saya bisa bernetworking semasa kuliah, bekerja dan juga bersosialisasi dengan berbagai komunitas. Di sisi lain, basket mengajarkan saya tentang disiplin, team work, sikap kompetitif dan juga mental menjadi pemenang. Tak heran, saat di dunia kerja, hal tersebut sangat membantu saya. Sekarang tetap main basket untuk olahraga agar sehat dan dapat berpikir jernih. Allah senang Muslim yang kuat, makanya harus diikhtiarkan untuk sehat dan kuat.

Dan jangan salah, law firm besar juga mengapresiasi jika ada lawyer yang punya skill olahraga (setidaknya sebelum pandemi hadir ya).

Saya pun merasakan berkompetisi basket di kancah lawyer dan membela 3 kantor hukum (saat di SAP, ABNP dan HPRP Lawyers), dalam ajang Pertandingan Persahabatan Antar Kantor Hukum (PPAKH). Jadi lawyer pun tak luput dari dunia basket kan. Sempat 2x dari 3x ajang PPAKH turut mengangkat trophy juara basket. Gagal jadi pemain basket, akhirnya jadi lawyer dan berkompetisi basket antar lawyer. Sehat sehat semuanya ya.

#BPLawyers #SmartLegal #LawyersLife #OlahRaga #Basketball #PPAKH #FUN #Kompetisi

Bimo Prasetio