#WisataHati pagi ini bersama Ustadz @Yusuf_mansur kembali membahas mengenai Fadilah Shalawat jilid 2.
Innallaha wa malaaaaikatahu yusalluuna ‘alan nabiyy, yaa ayyuhallaziina amanu salu ‘alaihi wasalimuu taslimaa. (Al-Ahzab 56) #WisataHati
“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah dengan penuh penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzab 56) #WisataHati
Bayangkan hebatnya, Shalawat itu dilakukan Allah dan Malaikatnya, lalu kita mengikutinya. #WisataHati
Allah tidak makan dan minum. Tapi Allah bershalawat untuk Nabi. Subhanallah, kita mendapat kesempatan melakukan hal yang dilakukan oleh Allah. #WisataHati
Kalau kita mau jadi pengusaha hebat, banyak yang mencontoh pengusaha hebat. #WisataHati
Bershalawat lah untuk jadi pengusaha hebat dan tiru para Sahabat Nabi yang merupakan Pengusaha Hebat. #WisataHati
Misalnya, Abdurrahman Bin Auf. Jika membeli onta 1000 real maka akan dijual 1000 real juga. #WisataHati
Orang kalau beli Onta kan beli aksesoris lainnya juga. Jadi dapet untung dari beli aksesoris lainnya itu. #WisataHati
“Hai orang-orang yang Beriman, bershalawatlah kamu…” Artinya, Shalawat ini dilakukan oleh orang-orang yang beriman. #WisataHati
Subhanallah, ketika bershalawat kita masuk ke dalam golongan orang-orang yang beriman. #WisataHati
“… Dan ucapkan salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” Bagaimana cara menghormati Nabi? #WisataHati
Nabi Muhammad mengajarkan kita untukk melakukan Shalat Sunnah Qobliyah dan Ba’diyah. Jika kita tdk melaksanakan, apa itu menghormati Nabi? #WisataHati
Jadi kerjakan yang wajib dan rutinkan yang menjadi Sunah dari Rasul. #WisataHati
“Kadang kita bersedekah dengan harapan agar segera mendapatkan balasannya. Tanpa disadari, hal itu justru mengurangi kadar keikhlasan kita.”
Setelah membaca artikel dari link di atas, saya jadi teringat nasihat Ustadz Hilman Rosyad (@Ustadzhilman), bahwa infak (sedekah harta) itu bukan sedikit yang penting ikhlas, tapi justru lebih banyak dan ikhlas. Nah, sering dalam pembicaraan sehari-hari kita memperdebatkan soal sedekah itu bukan soal banyak atau sedikit jumlahnya, yang penting “IKHLAS”. Wah, sebelum kita setuju atau tidak setuju atas statement di atas. Simak dulu di bawah ini.
Mana yang lebih baik: income 500 ribu lalu sedekah 100 ribu atau income 100 juta kemudian sedekah 1 juta?
Mayoritas tentu akan berkata yang 100ribu, kenapa? karena pengorbanannya dinilai lebih besar. Ingat prinsipnya ibadah, lebih banyak lebih baik. Jadi lebih baik sedekah 100 ribu atau 1 juta? #Sedekah
Jangan menilai kadar keikhlasan, kita gak bisa tahu lebih ikhlas yang sedekah 100 ribu atau 1 juta. #Sedekah
Secara prinsip, ibadah itu, termasuk #Sedekah niatnya build in karena Allah. Hanya motif tambahannya, seperti minta kaya, mengurangi kadar ikhlas.
Dalam konteks orang yang income 100 juta lalu #Sedekah 1 juta, bisa jadi lebih ikhlas dari yang income nya 500 ribu lalu bersedekah 100 ribu. Kenapa? Karena lebih ringan baginya.Makanya dalam Islam dianjurkan untuk kaya. Harapannya agar dalam beribadah, baik #Sedekah shalat dan lainnya, dilakukan lebih ringan. Orang yang income nya 100 juta lalu #Sedekah 1 juta, bisa jadi diam saja karena mungkin malu hanya sedekah segitu. Tapi jelas sedekahnya ringan, sehingga bisa jadi lebih ikhlas.
Bandingkan dengan yang income nya 500 ribu lalu #Sedekah 100 ribu, tapi dengan harapan agar segera dibalas. Bisa jadi karena berat buat dia. Gak jadi soal #Sedekah ngarep dibalas sama Allah. Tapi jangan kasih deadline sama Allah, kapan harus menerima balasan #Sedekah nya. Jadi kembali soal ibadah tadi, lebih baik lebih ikhlas dan lebih banyak. Makanya perlu latihan. Gak hanya soal #Sedekah saja. Tapi tetap saja jangan kita berlagak jadi malaikat, menilai-nilai ikhlasnya tindakan seseorang.
Bisa jadi yang infaknya lebih sedikit, tapi amal kebaikan lainnya banyak. Ingat, setiap kebaikan adalah #Sedekah
Allah lebih tahu kapan kebaikan seseorang akan dibalas, dengan kadar dan waktu yang tepat.
Sebenernya contoh tadi kurang ekstrem. Bisa jadi ada yang income nya 1 trilyun sedekahnya 1 Milyar. Tapi diem-diem aja, karena malu “kekecilan” :)
Sekian sharing yg saya dapatkan dari kajian @ustadzhilman beberapa waktu lalu di kantor. Salam.
Mau bertegur sapa dengan saya, sila follow @Bprasetio
Sedang hangat topik tentang kisruh kepemimpinan di Indonesia saat ini akibat kebijakan yang dibuatnya. Mulai dari kepala negara, PSSI, partai dan lain-lain. Jadi menarik mengulas tentang pemimpin, tapi bukan menggunjing ya :)
Sekarang saya akan sharing diskusi tentang Pemimpin yang barusan berlangsung di mesjid gedung kantor saya. Pemimpin harus dipatuhi sekalipun pemimpin kita dzalim. Sepanjang perintahnya itu tidak mungkar. “Rasulullah bersabda: mendengar dan mentaati diwajibkan seorang muslim dalam apa yang ia sukai dan yang ia benci, sepanjang ia tidak disuruh bermaksiat. Jika disuruh bermaksiat, ia tidak wajib dengar dan taat.”
Umat Islam diminta untuk tidak membelot atau mengumumkan pembangkangan terhadap pemimpin, karena Pembelotan itu dapat memecah tongkat ketaatan pada kepemimpinan kaum muslim. “Barangsiapa menghina pemimpin (muslim), maka Allah menghinanya.” (HR At-Tarmidzi). Rasul juga bersabda, “Agama adalah nasihat.” Untuk siapa? “Untuk Allah, kitab-kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kamum muslimin dan kaum muslimin secara umum.”
Tidak ada pemimpin yang benar-benar terlepas dari kesalahan. Tidak ada yang sempurna. Kita tidak bisa berharap mendapat pemimpin pada zaman Khilafah. Belum tentu berhasil. Karena persoalannya berbeda. Oleh karena itu, menjadi penting pemimpin kita untuk berbekal ilmu Tauhid. Jadi minimal berada di jalan Allah dan mendirikan shalat.
Ketika kita berharap agar kita meminta keadilan, maka mulailah keadilan itu dari diri kita sendiri. Kita ingin pemimpin kita yang soleh. Jadilah orang yang soleh krn kelak kita adl pemimpin, minimal dlm rumah tangga, lingkungan. Tidak mudah jadi pemimpin. Memegang amanah bagi banyak orang. Menjaga wibawa dari yang dipimpinnya.
Penonton selalu merasa lebih baik dari yang ditonton. Lihat aja komentator dan penonton sepak bola, hehe. Jangan ngotot jadi pemimpin, ketika ngotot minta jadi pemimpin, nanti Allah akan berikan semua beban kepadanya ketika dia menjadi pemimpin.
Untuk mengganti pemimpin bukan dgn men-dzalimi. Itu sama halnya degan menyapu kotoran degan sapu kotor. Dengan suatu suksesi atau kudeta, apakah kemudian bisa mendapat pemimpin yang lebih baik?
Rasul berpesan, untuk menjadi negara yang baik maka pemimpin dan rakyat saling mendoakan. Doakan agar kita mendapat pemimpin yang amanah, doakan pemimpin kita mendapat petunjuk dan hidayah dari Allah. Rakyat pun berdoa agar pemimpinnya selalu mendapat lindungan dan bantuan dari Allah.
“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS: 16:182).