Taaruf – Tadhomun

Jul 2, 2014

Berikut ini adalah Resume Kajian BB Grup Tausiah, oleh Ustadz Hilman Rosyad tentang Taaruf.

“Barangsiapa yang ingin diluaskan rezeki nya dan dipanjangkan umurnya maka bersilahturahim lah” Hadist

“Tidak akan seseorang itu masuk surga jika dia memutus silahturahmi” Hadist

“Hendaklah salam itu kau sampaikan pada orang yang kau kenal dan tidak kau kenal” Hadist

“Kalau Tak Kenal Maka…. Ta… Aruf”

Iya, tidak kenal itu tidak ada urusannya dengan sayang.

Taaruf (pengenalan) itu ibadah. Taaruf itu dimulai secara demografis; nama, tinggal, usia, pekerjaaan dll.

Tidak hanya fisik, tapi juga Kemudian mengenal hati. Hati itu ada emosi, spiritual dan intelektual. Lalu Pola pikir, pemahaman, ideologi. Sama seperti ibadah, dimulai dengan pengenalan.

Manusia itu sering berkeluh kesah. kalau dikasih enak nolak. Suka gak jaga kesehatan. Dikasih sehat malah begadang, gak tahajud.

Dikasih sakit merasa sedih, mengeluh lagi. Diambil nikmatnya sedikit merasa paling susah.

Semua itu ada manfaatnya, shalat ada manfaatnya, sedekah dan lainnya juga.

Rantai Taaruf-Tafahum-Taawun-Takaful-Tadhamun

Taaruf juga ada manfaatnya. Kita menjadi bisa memahami saudara kita. Pemahaman ini yang bisa membuat kita ber-Taawun (kerjasama) dalam kebaikan.

Kerjasama hanya bisa dilakukan jika sudah mengenal dan memahami.

Takaful: yang satu melengkapi lainnya. Karena setiap orang punya kelebihan dan kekurangan.

Thadhomun (jaminan). Artinya saudaranya menjadi jaminan bagi saudara lainnya.

Dari rangkaian ini yang menciptakan sinergi. Mulai dari mengenal hingga hilang rasa khawatir karena saudara yang satu menjamin saudara yang lain.

Semua ibadah itu adalah dilarang, kecuali diperintahkan. Karena kita sudah mengatakan: AshaduAllah ila ha ilallah. Jadi semua ibadah itu terbatas.

Mualamalah itu tidak terbatas. Muamallah itu meliputi jual beli, utang piutang, dll.

Imam Hanafi lebih longgar daripada Imam Syafiie. Karena Imam Hanafi selain belajar dan mengkaji hadist juga berdagang (bisnis).

Banyak yang disampaikan oleh Imam Hanafi itu bersifat dhoif. Karena setelah dikaji oleh Imam Syafei ternyata berdasarkan hadit (pemikiran) bukan hadist.

Etika berbisnis yang harus lebih diperhatikan..

Dalam wilayah etika, kita tidak boleh merasa rugi memberikan manfaat kepada orang lain.

Penulis Artikel

Bimo Prasetio

Bimo Prasetio

Bimo Prasetio adalah seorang corporate lawyer dan entrepreneur, pendiri jaringan penyedia jasa hukum, Smart Legal Network. Dalam perjalanan karirnya, Bimo memiliki pengalaman menangani berbagai transaksi bisnis dan sengketa komersial.

Disamping itu, Bimo memiliki perhatian terhadap edukasi dan advokasi hukum terhadap UMKM. Kemudian bersama rekannya Bimo membangun platform Smartlegal.id agar Akses Hukum Jadi Mudah bagi para pelaku bisnis di Indonesia.

Bimo dapat dihubungi melalui: ask@bimoprasetio.com

Artikel Lainnya

4 Kata Kunci Agar Di Jalan yang Lurus

Kembali mengutip dari BB Grup Taushiyah. Diskusi dan sharing yang penuh gizi dan energi, akan saya sajikan disini agar bermanfaat bagi semua yang membacanya. Salam, Kajian pagi ini, 4 kata kunci agar seorang hamba bisa berjalan di atas jalan yang lurus, yaitu: Ilmu,...

read more
Kewajiban Terhadap Rasulullah

Kewajiban Terhadap Rasulullah

Anas berkata, “Aku mencintai Nabi, Abu Bakar, dan Umar dan aku berharap aku (kelak dikumpulkan) bersama mereka meskipun aku tidak beramal sebagaimana amalan sholeh mereka" (HR Al-Bukhari no 3688 dan Muslim 4/2032). Rasul pernah bersabda: Barangsiapa yang yang bersusah...

read more
Al-Ahzab 33

Al-Ahzab 33

Surat Al-Ahzab 33, Ayat ini diturunkan ketika zaman peperangan. Dalam konteks kekinian, kita tidak boleh lari dari pekerjaan, bisnis selama tujuannya adalah yang al-haq di muka bumi. Jadi kita berjihad di dunia yang kita hadapi. Mental yang "susah" menghadapi bukanlah...

read more

0 Comments

Bimo Prasetio