Holmes memiliki ide untuk menciptakan alat tes yang hanya memerlukan setetes darah, namun dapat mendeteksi berbagai penyakit.
Ia pun merintis startup yang bergerak di bidang teknologi kesehatan bernama Theranos untuk mewujudkan idenya. Holmes menggandeng Ian Gibbons, ahli kimia asal Inggris yang menjadi kepala lab Theranos.
Ide cemerlang Holmes ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Bahkan, beberapa konglomerat AS, seperti Henry Kisinger (mantan Menteri Luar Negeri AS) dan Larry Ellison (pendiri perusahaan teknologi Oracle), berinvestasi pada Theranos kala itu.
Hasil investigasi seorang jurnalis, terungkap bahwa di balik cemerlangnya alat Theranos, ternyata Holmes tidak menggunakan alat buatan perusahaan bernama Edison. Ia menggunakan alat buatan perusahaan lain yang dijual bebas. Paten dari Theranos ternyata baru sekedar ide.
Pada 2016, badan regulator kesehatan AS melarang Holmes untuk mengedarkan dan mengoperasikan layanan tes darah selama 2 tahun. Ia juga dituduh melakukan penipuan pada investor di tahun 2018. Akhirnya, Holmes diputus bersalah atas 4 dari 11 tuntutan terkait tindakan penipuan pada investor.
Integritas dan transparansi adalah value utama dalam bisnis. Rangkaian penipuan bukan hanya menyakiti perasaan seluruh stakeholder. Namun juga telah mencoreng kepercayaan banyak orang terhadap industri.
Menurut kalian kisah ini di Indonesia mirip kisahnya siapa ya?






0 Comments