Ketika Hidup di (Bukan) Negara Hukum

Oct 4, 2016

Tidak banyak yang tahu, bahaya yang dihadapi oleh negara ini adalah ketika pemimpin (eksekutif) mengesampingkan hukum atau putusan lembaga peradilan (yudisial). Sehingga rakyat tidak mendapat kepastian hukum.

Ngeri sekali membayangkan dampaknya, ketika ada putusan pengadilan tidak dihormati lagi oleh rakyat lantaran berkata, “Lha wong pimpinan kita saja boleh begitu masak kami tidak.”

Tidak jarang bahkan ada wong cilik yang punya dasar kepemilikan hak atas tanah (sertifikat) lalu tidak bisa mendapatkan haknya lantaran ada “orang besar” yang menempati tanahnya. Dimana kepastian hukum bagi para wong cilik ini.

Investor asing yang sudah punya izin untuk operasikan bisnisnya, tiba-tiba dilarang menjalankan usahanya hanya karena ada interupsi premanisme. Ketika ada putusan pengadilan yang memenangkan investor asing ini, sang “preman” hanya berkata, “Ah itu kan cuma putusan pengadilan. Gubernur dan presiden kita saja gak pusing soal itu.”

Dan ketika seorang ahli waris hendak mendapatkan hak warisnya diserobot oleh orang lain tanpa ada alasan apapun, lalu dikangkangi hanya karena, “fatwa waris pengadilan itu hanyalah secarik kertas yang gak ada artinya.”

Apakah ini teladan yang akan diberikan para pemimpin kita? Teriak perlawanan terhadap korupsi, tapi tidak taat kepada aturan hukum.

Selamat datang di negeri dongeng. Dimana Hukum bukanlah panglima. Hanyalah suatu torehan formalitas yang digunakan untuk mempercantik tumpukan rak administrasi.

Ah, semoga saya tidak berada di negeri tersebut. Semoga banyak orang cerdas yang berpikir waras. Karena saat ini romantisme dan kewarasan seakan saling bertepuk sebelah tangan.

Kesal dan benci terhadap pemberantasan korupsi seakan jadi alasan rindu kepada mereka yang dinilai berani melawan dengan segala caci maki. Namun batas kewarasan ini harus tetap dijaga, jangan sampai terbuai atraksi politik.

Saatnya berani membuat keputusan.

Saatnya berani membuat keyakinan untuk PERUBAHAN. Saatnya berani berkata, “Kita berhak akan kebenaran dan kejujuran.”

Nurani akan bicara. Saat JUJUR merupakan value penting yang harus dijunjung dan Konsistensi menjadi suatu komitmennya.

Bimo Prasetio
Dalam perenungan di sudut keheningan

Penulis Artikel

Bimo Prasetio

Bimo Prasetio

Bimo Prasetio adalah seorang corporate lawyer dan entrepreneur, pendiri jaringan penyedia jasa hukum, Smart Legal Network. Dalam perjalanan karirnya, Bimo memiliki pengalaman menangani berbagai transaksi bisnis dan sengketa komersial.

Disamping itu, Bimo memiliki perhatian terhadap edukasi dan advokasi hukum terhadap UMKM. Kemudian bersama rekannya Bimo membangun platform Smartlegal.id agar Akses Hukum Jadi Mudah bagi para pelaku bisnis di Indonesia.

Bimo dapat dihubungi melalui: ask@bimoprasetio.com

Artikel Lainnya

0 Comments

Bimo Prasetio