Salah satu perusahaan furnitur, Fabelio, viral di media sosial karena diduga tidak membayar hak karyawan hingga dituding menggunakan ormas untuk memaksa karyawannya mengundurkan diri (resign).
Dalam komentarnya di akun media sosial Fabelio, karyawan menyebutkan bahwa Fabelio memaksa karyawannya untuk menandatangani surat pengunduran diri.
Selain gaji yang tidak dibayar, Fabelio diduga belum membayarkan BPJS para pekerja hingga masih memiliki tunggakan hutang ke vendor.
Menanggapi hal itu, Head of Human Capital Management Fabelio, Febrian Gilang membantah dugaan adanya pemaksaan karyawannya untuk resign. Fabelio memang melakukan pengurangan jumlah karyawan sejak awal tahun 2021. Hal itu, sebagai langkah efisiensi perusahaan yang mengalami kesulitan secara finansial.
Pada periode awal tahun 2021, ada sekitar 20-an karyawannya yang di-PHK. Namun, dia memastikan bahwa perusahaan telah membayar seluruh hak dan tunggakannya kepada karyawan tersebut. Selanjutnya, seiring dengan semakin parahnya kondisi keuangan pada Kuartal IV-2021, perusahaan pun mengambil langkah serupa.
Namun, kali ini ditawarkan dalam bentuk dua opsi. Pertama, karyawan ditawarkan untuk mengundurkan diri dan akan dibayarkan seluruh hak dan tanggungan perusahaan, mulai dari gaji, hutang hingga Tunjangan Hari Raya (THR).
Opsi selanjutnya, karyawan bisa memilih untuk tetap bekerja di Fabelio, dengan konsekuensi harus menerima penundaan dan pencarian hak berupa gaji dan sebagainya.
Jika ada karyawan yang mengaku melakukan resign karena paksaan, maka harus dapat membuktikan adanya paksanaan dalam penandatanganan surat pengunduran diri tersebut di Pengadilan Hubungan Industrial untuk meminta pembatalan.
Namun, apabila hal tersebut tidak dapat dibuktikan dan sudah terlanjur dibawa ke ranah publik, maka hal ini justru akan memicu masalah hukum lainnya terhadap karyawan tersebut. Maka, harus bijak dalam bertutur ya.
Yang menarik, banyak karyawan yang mengaku mendapatkan pengalaman dan suasana kerja yang luar biasa di Fabelio. Walau memang tekanan soal keuangan yang mendera perusahaan menjadi derita tersendiri.
Tantangan bagi perusahaan yang mengalami hal seperti ini adalah bagaimana mencari solusi terbaik untuk melanjutkan bisnis. Apakah model bisnisnya yang perlu berganti arah, restrukturisasi keuangan perusahaan atau bahkan menutup bisnis untuk mengakhiri pendarahan arus keuangannya.






0 Comments